Jalan Jajan : Kapan Lagi Ya Ada Festival Kuliner?

Maafkeun…maafkeun…postingan kali ini telatnya keterlaluan. Bukan cuma #LatePost tapi udah masuk kategori basi. Tapi emang tiba-tiba jadi pengen bikin postingan karena nemu foto-foto pas iseng diajakin jalan-jalan ke festival kuliner di Gubernuran.

Pengakuan dosa : Selama ini emang nggak pernah tertarik jalan ke festival kuliner manapun. Beberapa alasannya adalah :

  1. Pasti rame banget
  2. Pasti bingung mau makan apa karena semua pengen dicoba
  3. Males ngantri
  4. Giliran udah ngantri ternyata makanannya abis

Huehehe…padahal yang serunya datang ke festival kuliner ya disitu. Buat blogger kuliner senior yang certified pastinya udah nggak asing lagi dengan riweuhnya festival kuliner. Apalagi kalau pelaksanaannya rada akbar di sebuah lapangan yang rumputnya udah mulai gundul, debu beterbangan, panas menyengat, aroma arang sate nyampur jadi satu sama keringet dan parfum berlebihan…:D Tapi bukannya itu yang bikin sedep?

Festival Kuliner (katanya begitu) yang saya hadiri tempo bulan (karena eventnya udah sebulan lalu) saya rasa lebih mirip pameran Usaha Kecil Menengah sih kayaknya. Uhhm…gerai-gerai yang ada bukan jenis yang menyajikan makanan khas dari Semarang atau wilayah sekitar. Kebanyakan produk kuliner yang dijual adalah produk makanan ringan franchise-an, atau produk dari usaha keluarga. Satu-satunya yang menjual makanan khas hanya kedai bakmi Jowo yang ada di salah satu stand berdampingan dengan kedai Nasi Gandul khas Pati (itupun kedainya nggak mencolok, share sama stand jual es dawet).

festival Kuliner Gubernuran

festival Kuliner Gubernuran

Tapi tak apalah, yang penting bisa jalan-jalan keliling dan mencoba banyak makanan.

Oke, let’s Go!

Siang itu saya keliling-keliling nyoba nyari kira-kira makanan apa yang pengen saya cicip. Bukankah esensi datang ke festival kuliner emang harus gitu ya? Keliling – nyari makanan – nyicip, bukannya cuma duduk-duduk sambil makan keripik (temen saya begitu soalnya) 😀

Yang pertama saya coba adalah makan ini :

lasagna Dapur Keju

lasagna Dapur Keju

Ini yang pertama kali menarik perhatian saya karena begitu ngelihat makanan yang satu ini terpampang di display, saya langsung pengen beli. Pas pengen mungkin. Harganya sekitar 32ribuan, dan waktu itu dapet diskon 15%. Agak kaget juga karena Lasagna ala Dapur Keju ini enak. Pastanya lembut, saus kejunya cukup banyak. Lasagna ini boleh saya sebut “cukup basah” dan creamy dengan ground beef dan kornet yang memberikan cita rasa khas. Oh, tentu saja saya menemukan taste pala yang cukup kuat dan enak. Andai saya nggak inget kalau saya masih harus keliling, saya bisa menghabiskan 2 porsi. Dan benar saja, ketika saya keliling dan datang lagi ke stand Dapur Keju untuk membeli lasagna yang sama, barangnya Sold Out. *sedih* Silakan lho kalau datang ke Semarang boleh mampir ke gerainya (lihat foto di bawah ini)

Dapur Keju

Dapur Keju

Oh ya, di Dapur Keju saya juga nyoba makan Souffle (yang beli temen). Saya kurang cocok dengan makanan yang satu ini. Mungkin karena dasarnya saya nggak begitu doyan sama adonan Pate A Choux kali ya? Soufllenya kering, dan dominan di adonan pastry-nya. Jatuhnya malah eneg. Bukan jenis makanan favorit saya.

Souffle

Souffle

Abis dari Dapur keju saya melipir ke stand berikutnya. Eh, mampirlah saya ke sebuah stand yang dijaga sama segerombolan anak muda yang sepertinya mahasiswa. Namanya Kitchen Hours. Langsung ngebatin “wah, mahasiswa entrepreneur nih…nyoba lihat jualannya apa” Eternyata emang punya anak Unnes yang dibantu sama temen-temennya.

Dan ternyata jualannya hampir sama dengan Dapur Keju. Ada Schoetel, Ada Lasagna, dan beberapa jenis minuman. Saya malah tertarik beli Lasagna-nya, secara saya juga barusan makan lasagna versi Dapur Keju. Pengen nyoba Lasagna ala Kitchen Hours. Nggak adil memang kalau saya harus membandingkan rasa Lasagna dari keduanya. Harganya saja sudah jauh berbeda. Lasagna milik Kitchen Hours ini harganya 9ribu saja.

Kitchen Hours

Kitchen Hours Lasagna

Kitchen Hours

Kitchen Hours Schoetel

Lasagna-nya sih ala-ala. Pasta Lasagna nya cukup tebal sampai 4 lapis, hanya isiannya didominasi oleh potongan wortel dengan sedikit kornet sapi. Sausnya hampir tak terasa. Lasagna ini kering sih menurut saya dengan taste yang manis. Tapi dengan harga 9 ribu, what do you expect? Sudah cukup berani sih bisa jual Lasagna dengan harga segitu.

Milkshake Matcha

Milkshake Matcha

Kitchen Hours juga menjual berbagai macam minuman. Salah satunya ini, Milkshake Matcha katanya. Enak sih. Matchanya cukup kerasa walaupun nggak begitu dingin. Minuman ini memang sengaja disajikan “chilled” tanpa tambahan es batu. Ketika saya merasa kalau minuman ini kurang dingin dan saya minta es batu, mereka bilang “emang kita nggak tambahin es batu kak, es batu cuma buat mendinginkan aja”. Oh i see..jadi begitu. Dan ternyata ketika saya minum, rasanya emang nggak begitu manis. Jadi paham kenapa nggak ditambahin es batu, karena minuman ini bisa jadi tawar dan jatuhnya malah jadi nggak enak. Over all, salut deh sama Kitchen Hours.

Lanjut lagi…

Keliling -keliling lagi dan nemu stand es krim di pojokan. Namanya Bakoel Es Krim.

Bakoel Es Krim

Bakoel Es Krim

Variannya sih macem-macem. Kalau saya beli yang Tiramisu. Penasaran macam mana sih es krimnya?

Es krim Vanilla Tiramisu

Es krim Vanilla Tiramisu

Namanya sih gitu. 2 Scoop Es Krim Vanilla dengan taburan kacang dan serutan coklat. Uhm…gimana ya? Ya gitu deh. Untuk es krim seharga 9 ribu, lumayan lah buat “obat pengen”. Sepertinya es krimnya bukan home made deh…Tapi es krim merk yang disajikan dengan beberapa variasi rasa. Ya lumayanlah. Kali-kali aja mau coba varian rasa dan menu lainnya, silakan datang ke gerai Bakoel Eskrim di Tembalang.

Aku peta! aku Peta!

Aku peta! aku Peta!

masih kuat jalan-jalan dan makan-makan? Masih dooong.

Mari kita makan sate!

Teee Sateeee

Teee Sateeee

Sate ini namanya Sate Semarangan – Sate Cempluk. Agak penasaran juga sate apaan sih ini? Oooo..sate ayam tho? Mungkin agak kaget kalau belum pernah nyoba sate cempluk. Anda tidak akan menemukan sambal kacang melainkan kecap saja (mungkin kecap tjap Lele deh…). Seporsi 10 ribu sama lontong. Diberi irisan cabe setan kalau mau pedes. Satenya sendiri diolah dengan bumbu-bumbu khas untuk ungkepan ayam (minus kunyit pastinya). Kayaknya sate ini tidak dibakar di atas arang deh, karena satenya kering dan tidak juicy. Teksturnya juga agak keras seperti khas daging ayam yang dipanggang. Tapi bumbunya lumayan meresap sampai ke dalam meskipun buat saya, sate yang diolah dengan cara dibakar di atas arang lebih Mak Nyuuusss.

Sate Cempluk

Sate Cempluk

Monggo kalau mau order buat acara arisan atau apalah…

Berikutnya…(dan yang terakhir karena perut udah buncit maksimal) adalah Burger Hitam Daging Ayam. Namanya Kuro Burger.

Kuro Burger

Kuro Burger

Kuro Burger

Kuro Burger

Sama seperti burger pada umumnya, hanya saja Bun-nya berwarna hitam (Lagi in lho iniiiii….). Dijual dengan harga 15 ribu burger ini rasanya biasa saja. Chicken Pattynya sih tebel, tapi kering dan agak keras. Jadi macam Nugget saja. hehehe. Sayang sih Beef Patty-nya abis. Btw, rotinya sendiri agak manis dengan tekstur yang berongga dan agak “kapes-kapes”. Apa sih istilahnya? Ya gitu deh, agak “kopong”. Lembut sih rotinya, tapi saya malah nggak suka. Lebih suka bun yang biasanya. Yang tebel dan empuk. Menurut yang jual, katanya sih warna hitamnya ini didapat dari arang bambu. Apa sih arang bambu? Bentuknya sih seperti bambu dan memang ini arang. Bisa digunakan untuk pengobatan dan ternyata bisa juga dijadikan salah satu bahan untuk pembuatan makanan, salah satunya adalah roti bun yang dipakai di Kuro Burger ini. Ini lho bentukannya….

bambuawet.com

bambuawet.com

Yak, boleh juga kalau mau buka franchise. Kuro Burger ini membuka kesempatan lho…

Kuro Burger

Kuro Burger

Yang Punya Sama

Yang Punya Sama

Sebenernya pengen coba Cone Bread yang konon lagi happening banget itu. Tapi kok ya agak trauma abis makan Souffle, jadi liat bentukannya Bread yang macam Choux Pastry jadi nggak minat. Sebenernya sih nggak ada yang istimewa kecuali cara penyajian dan bentuk makanannya sendiri yang lumayan lucu. Isiannya biasa aja. Kornet dicampur sama irisan bombay, dikasih mayones, keju, saos, campur jadi satu terus dimasukkan ke dalam cone brad, dan dipanggang dalam oven selama beberapa menit sampai kejunya meleleh. Kapan-kapan deh kalau ketemu lagi sama makanan yang satu ini.

Jadi begitulah, hutang saya yang lunas terbayar untuk membuat postingan ini.

(Hiihihi..padahal nggak hutang sama siapa-siapa)

Jadi, sampai bertemu kembali di #JalanJajan berikutnya.

Kemana lagi kita!?

 

Advertisements

One thought on “Jalan Jajan : Kapan Lagi Ya Ada Festival Kuliner?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s